Postingan

Ramai yang Paling Sunyi

Gambar
Hening ini ramai. Semua orang sedang berbicara, menguatkan, mengingatkan untuk sabar. Tapi tak satu kata benar-benar hinggap.   Semuanya terlalu cepat untuk kucerna, dan terlalu lambat saat semua orang sibuk berduka.  Tak ada kata “ikhlas” yang ringan di lidah. Semuanya berat—seberat dunia yang ikut runtuh, bersama harapan dan cintanya. Dia duniaku. Dia cinta pertamaku.  Masa depanku yang indah—aku bayangkan masih bersamanya meskipun tua dan keriput,  Tapi sekarang dia menghilang, bersama tanah itu.   Basah. Tak rata. Harum bunganya masih tercium. "Maafkan jika beliau banyak salah. Doakan jalannya lapang.”   Tapi aku ? Aku masih berdiri di antara bunga dan nisan menunggu keajaiban bernama “pulang.” seperti hari-hari biasa.  Aku menantinya di ujung senja, seolah hari berjalan seperti biasa. Pulang kerja. Masuk rumah.  Suaranya. Harumnya.  Tapi itu tak pernah terjadi lagi.   Rumah ini masih menunggunya,  Suaranya tak pernah terde...

HENING YANG BISING

Gambar
Rasa ini datang dengan sangat elegan, indah tanpa terburu.  Rasa syukurku melebihi apapun. Karena dalam rasa ini dititipkan perasaan untuk berubah, menata, menjadi dewasa, realistis dan berlapang dada. Aku sadar bahwa akan banyak kemungkinan yang hadir dan menyapa. Ketenangan perasaan ini yang semakin tumbuh membuatku semakin menjatuhkan hati. Aku merasa ikut tumbuh dalam banyak hal. Kehidupan masih berputar, kesibukan masih berjalan. Aku menjadi paham arti kedewasaan dalam mencintai. Menahan semua agar tetap berada di tempatnya, menahan diri untuk menjaganya dari jauh. Tempatku sagat jauh, itu yang aku rasakan. Bebanku sangat berat karena selain berperang dengan diri sendiri, aku juga harus berperang dengan ketidaktahuanku tentang dunianya. Perasaan ini membebani seiring berjalannya waktu. Memaksaku bertahan tanpa kepastian. Bertahan tanpa ujung yang jelas. Semua bias, abu-abu. Bahkan setitik harapanpu seolah menolak mendekat. Dunia hanya tahu jika jalanku begitu mudah, ...