HENING YANG BISING
Rasa ini datang dengan sangat elegan, indah tanpa terburu.
Rasa syukurku melebihi apapun. Karena dalam rasa ini dititipkan perasaan untuk berubah, menata, menjadi dewasa, realistis dan berlapang dada. Aku sadar bahwa akan banyak kemungkinan yang hadir dan menyapa.
Ketenangan
perasaan ini yang semakin tumbuh membuatku semakin menjatuhkan hati. Aku merasa
ikut tumbuh dalam banyak hal. Kehidupan masih berputar, kesibukan masih
berjalan. Aku menjadi paham arti kedewasaan dalam mencintai.
Menahan
semua agar tetap berada di tempatnya, menahan diri untuk menjaganya dari jauh.
Tempatku
sagat jauh, itu yang aku rasakan. Bebanku sangat berat karena selain berperang
dengan diri sendiri, aku juga harus berperang dengan ketidaktahuanku tentang dunianya.
Perasaan
ini membebani seiring berjalannya waktu. Memaksaku bertahan tanpa kepastian. Bertahan
tanpa ujung yang jelas. Semua bias, abu-abu. Bahkan setitik harapanpu seolah
menolak mendekat.
Dunia
hanya tahu jika jalanku begitu mudah, tak ada yang meyangka jika usaha ini
sampai ditempat dimana jauhnya melampaui ekspektasi semua orang. Tak sedikit
dari mereka yang menganggap kami hanya dua orang asing yang hanya akan sampai
pada salam dan sapa, tak lebih.
Tapi
permainan semesta membuat dunia dan seisinya tak percaya. Nyatanya usahaku di
dengar semesta. Kami lebih dari dua orang asing biasa, kami dua orang asing
yang sempurna. Setidaknya begitu pikir dunia. Meskipun semesta mendukung setiap
gerak yang kuusahakan. Aku masih tidak tahu apa ini jawaban dari langit.
Aku
berjalan dengan ekspektasi dunia, berharap dukungan semesta tapi aku masih tak
tahu jawaban dari langit.
Mungkin
langit sedikit kecewa karena dulu namanya menjadi kata paling keras dan sering
aku sebut ketika bersimpuh, kuucapkan diantara doa pengantar, tapi semakin lama namanya semakin samar dan bahkan sudah tidak terdengar. Bukan karena aku tidak
menginginkannya lagi atau bahkan menyerah. Lebih dari itu aku realistis. Apa benar bukan aku?
Manusia ini hanya mampu berusaha sampai isi kepalanya hanya penuh dengan pertanyaan.
Sampai kapan?
Sampai Sang Pencipta mengambil kembali rasa yang Ia berikan padamu. Tak ada pertemuan tanpa sebab. Mungkin saja dia memang dihadirkan untuk membersamaimu atau hanya sekedar menjadi pembelajaran bahwa sejatinya setiap orang ada masanya?
Sakit membayangkan tapi realistis
diperlukan.
Muak
sejujurnya. Mengemis, dunia hanya ada dia isinya tak ada yang lain. Mataku
hanya terpatri padanya. Duniaku hanya dia porosnya. Menyedihkan memang.
Nyatanya yang kau jadikan dunia saja tidak kau ketahui bagaimana isi dunianya.
Siapa dan apa yang ada disekitarnya. Menebak seperti kuis berhadiah. Yang kamu tah hanya dia ada dan bisa kau
sentuh. Tidak lebih.
Tak
apa. Akan aku jalani perasaan ini sampai pada masa kadaluwarsanya. Sampai habis
rasanya. Hambar tak tersisa. Dunia pasti ada akhirnya dan orang akan ada
masanya. Akan aku habiskan dunia itu sampai ujung masanya.
Jika
memang dia tidak bisa menjadi kebahagiaan terbesarku, berarti pilihan akhirnya dia
bakal jadi patah hati terbesarku.
Semoga
ikhlas akan menjadi penutup kisah indah ini jika memang tak ada namanya di ujung
sana.
Doaku
akan selalu sama. Yang kulangitkan hanya kebahagiaannya, kesehatannya dan kelak
akan ada wanita yang membersamainya dan menjadi dunianya seutuhnya.
Wanita yang aku harap mampu mendampinginya dengan rasa setulus diriku, selapang diriku dan mampu berada di sampingnya bersama setiap badai yang dia hadapi. Genggam tangannya, lapangkan hatinya dan dengarkan keluh kesahnya. Selalu ku semogakan wanita itu.
Akan
aku tutup tulisan ini dengan doa dari yang terdalam.
Ku
titipan dia PadaMu Ya Allah. Bimbing dia padaku jika memang dia seutuhnya untukku. 💌

Komentar
Posting Komentar