Ramai yang Paling Sunyi



Hening ini ramai.
Semua orang sedang berbicara, menguatkan, mengingatkan untuk sabar.
Tapi tak satu kata benar-benar hinggap. 

Semuanya terlalu cepat untuk kucerna,
dan terlalu lambat saat semua orang sibuk berduka. 

Tak ada kata “ikhlas” yang ringan di lidah. Semuanya berat—seberat dunia yang ikut runtuh, bersama harapan dan cintanya.

Dia duniaku. Dia cinta pertamaku. 

Masa depanku yang indah—aku bayangkan masih bersamanya
meskipun tua dan keriput, 

Tapi sekarang dia menghilang, bersama tanah itu. 

Basah. Tak rata.

Harum bunganya masih tercium.

"Maafkan jika beliau banyak salah. Doakan jalannya lapang.” 

Tapi aku ? Aku masih berdiri di antara bunga dan nisan
menunggu keajaiban bernama “pulang.”
seperti hari-hari biasa. 

Aku menantinya di ujung senja, seolah hari berjalan seperti biasa.

Pulang kerja. Masuk rumah. 

Suaranya. Harumnya. 

Tapi itu tak pernah terjadi lagi.  

Rumah ini masih menunggunya, 

Suaranya tak pernah terdengar. Harumnya tak pernah tercium lagi.

Aku takut semua terlupakan 

Aku takut dia hilang… dari segalanya. 

Ikhlasku masih di tenggorokan. Tak pernah sanggup kusuarakan,
meski aku berharap ia benar-benar sampai padaMu:
bahwa aku ingin ia tenang. 

Rinduku sangat besar, dan selalu tumbuh, hingga kadang tak terkendali.  

Lalu mereka bilang:

“Cukup ya, jangan menangis lagi. Kamu harus kuat untuk yang lain.” 

Tapi mereka lupa, aku masih gadis kecilnya.
Aku juga ingin dikuatkan. 

Jadi aku menangis untuk diriku sendiri.

Di tempat yang tak pernah mereka tahu.
Tak kuizinkan mereka mendengar air mataku,
tak kubiarkan mereka melihat isakku. 

Yang mereka lihat hanya aku, setegar baja.

Tapi jauh di dalam sana… semuanya sudah hancur. 

Tuhanku,

Aku ikhlaskan jalanku pada-Mu. 

Buat aku kuat, tanpa tangis di hadapan dunia. 

Tapi izinkan aku menangis di hadapan-Mu. 

Karena hanya kepada-Mu, semua ini bisa kupulangkan.

 

         Surat cinta dari gadis kecilmu yang selalu rindu, 💗 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

HENING YANG BISING