Ramai yang Paling Sunyi
Hening ini ramai. Semua orang sedang berbicara, menguatkan, mengingatkan untuk sabar. Tapi tak satu kata benar-benar hinggap. Semuanya terlalu cepat untuk kucerna, dan terlalu lambat saat semua orang sibuk berduka. Tak ada kata “ikhlas” yang ringan di lidah. Semuanya berat—seberat dunia yang ikut runtuh, bersama harapan dan cintanya. Dia duniaku. Dia cinta pertamaku. Masa depanku yang indah—aku bayangkan masih bersamanya meskipun tua dan keriput, Tapi sekarang dia menghilang, bersama tanah itu. Basah. Tak rata. Harum bunganya masih tercium. "Maafkan jika beliau banyak salah. Doakan jalannya lapang.” Tapi aku ? Aku masih berdiri di antara bunga dan nisan menunggu keajaiban bernama “pulang.” seperti hari-hari biasa. Aku menantinya di ujung senja, seolah hari berjalan seperti biasa. Pulang kerja. Masuk rumah. Suaranya. Harumnya. Tapi itu tak pernah terjadi lagi. Rumah ini masih menunggunya, Suaranya tak pernah terde...